Saturday, December 20, 2008

Survey ala Tambunan on Facebook!!

Tulisan di bawah ini dimaksudkan semata-mata agar dapat di-link sebagai posting di sebuah grup Facebook, yaitu Tambunan on Facebook di mana saya diminta oleh admin-nya sebagai kontributor.

Horas!

Pada tanggal 10 Desember 2008, 11:55am (Jakarta time) yang lalu, bekerja sama dengan admin grup Tambunan on Facebook, kami mengirim sebuah message ke semua anggota grup perihal survey bertajuk ’adat batak’. Sebenarnya, ini bukan kali yang pertama Tambunan on Facebook mengetengahkan topik diskusi. Ada 2 (dua) topik diskusi sebelumnya di grup ini (anggota grup bisa membacanya di halaman grup ini), namun belum berhasil mendapat respon seperti yang diharapkan.

Dalam bentuknya yang sengaja dibuat sesederhana mungkin, survey ini dimaksudkan semata-mata untuk bahan diskusi semua anggota grup, dengan harapan dapat berlanjut menjadi diskusi yang lebih mendalam atau sekaligus mendorong inisiatif untuk topik diskusi lainnya dari anggota grup.

Pertanyaan yang dikirimkan kali ini adalah sebagai berikut:

Please read. Just take max 3 minutes.
Misal, sebuah survey yang dilakukan 20 tahun dari sekarang menunjukkan bahwa, dari 100 orang batak hanya 1 yang masih bisa bicara dalam bahasa batak dan mengerti adat batak. Menurut kamu, bagaimana urutan dari A, B, C, D di bawah yang paling bertanggung jawab atas situasi hipotetikal ini?

A. Organisasi marga (punguan)
B. Orang tua kita sekarang
C. organisasi gereja batak seperti HKBP, HKI
D. Saya

(Contoh: ADCB, DCBA, dsb....)

Atas sebuah usul, ketimbang hanya posting topik diskusi di halaman grup Tambunan on Facebook, maka topik ini juga dikirimkan langsung ke masing-masing anggota melalui fasilitas message all members. Cara ini membuahkan hasil.

Dari 124 orang yang terdaftar sebagai anggota Tambunan on Facebook, diperoleh 21 anggota atau sekitar 17% nya yang menyumbangkan pendapat. Sebuah hasil yang tidak jelek untuk
first trial.

Dari 21 respon yang masuk, sebanyak 52% responden mengakui bahwa diri mereka sendiri lah (SAYA) di urutan PERTAMA yang paling bertanggung jawab atas hasil survey hipotetikal tersebut.

Sementara itu, ORANG TUA ditempatkan mereka di urutan KE DUA yang paling bertanggung jawab, yaitu oleh sebanyak 57% responden. Disusul ORGANISASI MARGA yang dipilih oleh 62% responden sebagai yang paling bertanggung jawab urutan KE TIGA. Akhirnya, ORGANISASI HKBP dipilih untuk menempati urutan terakhir (KE EMPAT) sebagai yang paling bertanggung jawab, yaitu oleh sebanyak 62% responden.

Walapun 33% responden menganggap ORGANISASI HKBP sebagai yang paling bertanggung jawab urutan KE TIGA, namun tidak seorangpun menempatkan ORGANSASI HKBP sebagai yang paling bertanggung jawab di urutan PERTAMA maupun KE DUA.

Hasil survey ini sedikit terganggu dengan adanya sebuah respon yang tidak menjawab dalam urutan seperti yang diminta. Yang bersangkutan hanya memilih satu di antara empat pilihan. Ini bisa saja diartikan bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak melihat tiga pilihan lainnya ada sangkut paut dengan situasi hipotetikal tersebut. Namun demikian, bisa juga diartikan, yang bersangkutan memiliki keterbatasan pengetahuan untuk memperkirakan apakah tiga pilihan lainnya bisa memberikan pengaruh terhadap hasil survey hipotetikal yang diketengahkan di atas.

Apakah anggota grup Tambunan on Facebook lainnya juga berpendapat sama dengan hasil survey ini?


Thursday, December 11, 2008

Intriguing question

I am sure that there has to be one time in your life that you just can't avoid not to give your inner say a best shot to respond to a simple, yet, intriguing statement.

An FB friend of mine posted his statement on last Saturday that reads, "Can you think of ways that something good in your life can result from the financial meltdown?" Instantly, I say to myself, "It's jeopardy". You know, the famous tv quiz to most US viewers, which is instead of coming up with an 'answer', the only way you can win the quiz is to come up with the right 'question' everytime you can. (hope I'm right about this).

"I don't mean to undermine the implications the crisis has brought into people's lives, but I must say, to some extent the crisis has done perfect job in bringing key principals in economic and financial textbooks to live. It provides worthwhile visual to less financial literate people, especially me, in order to live life with wisdom, at least financially."

This is the thought that has already been in my head for quite some time, and it just poured out like that in the Wall of this FB friend of mine, only because he posted the question that matches the answer in my possession, like "jeopardy" (again, hope I'm right about the quiz).

Perhaps, this is not so important to others, but the experience is surely worth writing.

Glory be to God

Just recently, I found what I was looking for in YouTube. In an enthusiasm, I was searching whatever video that shows a choir performance singing GF Handel's masterpiece, the "Great Hallelujah" Chorus.

I remember the heavenly feeling I had when we put ourselves to the test by singing this song in front of our elders and congregation. Although it wasn't an easy role to do, yet, conducting NHKP Rajawali Pademangan Choir had put me in the spot light, with the attention and all that. And then, I was struck by the truth, that is, God didn't put me in the spot light so that I took all the glory, on the contrary, so that His name be glorified in my life. I have learned my lesson, and it wasn't an easy part of my life, I tell you that.

"Cash is king?"

Penurunan BI rate tidak serta merta menurunkan suku bunga kredit KPR properti . Walaupun alasannya timbul dari mekanisme yang bisa dimengerti, yaitu karena bank-bank tengah berada dalam situasi likuiditas yang ketat di mana alhasil di antara mereka saling berebut dana nasabah, yang hanya bisa mereka lakukan dengan menawarkan suku bunga simpanan yang kompetitif dibanding lainnya. Akibatnya bank harus menjaga suku bunga kredit 4-5% di atas bunga simpanan itu, supaya ada selisih positif di buku mereka. Tapi tetap saja ini sulit diterima. Kenapa? Karena, cash is literally rullling our bankers how to run their banks. Cash become the ruler. I never thought that this was the textbook actually meant when first reading it. But unfortunately cash is king, so to speak.

Tough times for miners

In addition to job and capex cuts, pressures to sell off assets suffering drop in value are now getting tougher for Rio on the slowing down of global demand. But would they refrain from its efforts to apply for the long-awaited contract of work to develop nickel deposit in Sulawesi?

Saturday, August 9, 2008

what makes a good capuccino?

i can tell by looking at it, i have made wrong order tonight.